Ketika Indonesia sedang
gencar-gencarnya PCC, aku fikir bahwa gedung PCC yang ada di Kota Pontianak lah yang
sedang buming di Negeri ini.
Ternyata aku salah PCC yang
dimaksud adalah gabungan dari 3 obat, yaitu paracetamol, caffeine, dan
carisoprodol. Di kebanyakan negara, obat kombinasi ini tidak dijual secara
bebas karena termasuk obat keras. Oleh sebab itu, menjualnya secara sembarangan
termasuk hal yang ilegal.
Beberapa hari lalu, Indonesia
dikejutkan dengan berita puluhan remaja yang dilarikan ke rumah sakit akibat
berperilaku aneh setelah mengonsumsi obat ilegal, PCC. Korban-korban tersebut
mengalami gangguan mental, sehingga harus berada dalam pengawasan medis.
Kasian banget kan ya ?
Iyalah, so ini salah siapa ? Si
anak ? Orangtua ? atau Negara ?
Menyudutkan salah satu dari ketiga
hal diatas gak mungkin juga, setiap manusia mempunyai hak untuk apa dan mengapa.
Tinggal memikirkan saja dampak kedepannya seperti apa. Orang yang berfikir
rasional akan mampu berfikir positif. Selanjutnya, orangtua harus lebih
berhati-hati dan memperhatikan anak-anak nya dalam bergaul.
Jika hal ini terus berlangsung dan
memakan banyak korban. Akan jadi apa Negeri ini ? Guys, Penyalahgunaan obat PCC
telah banyak membawa korban yang mayoritas usia muda dan pelajar. Generasi
bangsa perlahan akan hancur, Negeri ini akan luluh lantah berantakan.
Ingat, Kita adalah satu dari
banyak remaja yang ada di Negeri ini. Apa kita hanya diam saja ? apa kita hanya
cukup merasakan takut didalam selimut ? It’s no true...
Bagaimana kondisi adik-adik kita
yang tidak mempunyai sanak keluarga ? bagaimana nasib teman-teman kita yang
kurang dalam pengetahuan ? siapa yang akan membantu mereka agar terhindar dari
hal-hal seperti itu.
Kita harus aktif guys, kita harus menjalin
komunikasi dan memberikan pemahaman pada mereka tentang efek negatif pemakaian
obat terlarang. Jika mereka merasa sakit atau tidak enak badan, pastikan kita
memberikan pengetahuan kepada mereka, agar mereka mengonsumsi obat yang benar. Selain
itu, ajari juga mereka untuk tidak mudah menerima makanan dari orang asing,
apalagi jika diiming-imingi kesehatan, kepintaran.
Kita memang tidak bisa membantu banyak, namun
dari hal kecil dan dilakukan oleh banyak orang. Hal itu akan menjadi suatu
keajaiban yang besar. Percayalah itu.

