PANCASILA DI ZAMAN MILENIAL



Setiap tanggal 1 Juni selalu diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Siapa yang tidak mengenal Pancasila ? Disetiap upacara bendera pastinya selalu dibacakan teks Pancasila. Bahkan hampir disemua ruangan sekolah selalu terpajang teks Pancasila. Tidak hanya itu, Pancasila juga menjadi salah satu pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi.
Di Indonesia, pancasila bukanlah sekedar dasar negara. Kini pancasila menjadi ideologi atau pedoman hidup rakyat dalam segala aspek kehidupan. Pancasila sendiri memiliki banyak makna dan peran bagi Bangsa Indonesia, salah satunya sebagai ideologi. Dimana ideologi ini diartikan sebagai ilmu tentang gagasan atau buah pikiran. Jadi bisa kita pahami bahwa pancasila sebagai ideologi adalah wujud dari pemikiran manusia tentang cita-cita yang berusaha ingin diwujudkan. Cita-cita tersebut dirumuskan kedalam lima sila yang nilai-nilai nya bisa di aktualisasi menjadi norma kehidupan.
Namun nyatanya makna keberadaan Pancasila saat ini sangat berbeda dengan pancasila saat pertama kali dicetuskan. Di zaman yang canggih ini membuat masyarakat melupakan norma-norma yang terdapat didalam lima sila pancasila. Sehingga Pancasila harus beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan baru yang berbeda dengan situasi ketika pancasila dicetuskan.
Saat ini Pancasila harus berhadapan dengan generasi milenial. Dimana Generasi milenial ini adalah definisi demografi untuk mereka yang lahir pada tahun 1980-2000 an. Para ahli menganggap generasi ini berbeda dari sisi keyakinan realigi, politik, interaksinya dengan teknologi,  komunikasi, ekspresi lain sebagainya dari generasi-generasi SBX sebelumnya (Silent Generation 1928-1945, Boomer Generation I946-I964, dan X Generation 1965-1980). Generasi milenial berbeda dengan generasi SBX. Mereka yang lahir diatas tahun 1990-an hidup dalam dunia teknologi dan informasi yang sangat intensif. Mereka tidak perlu lagi menempuh waktu berjam-jam atau berhari-hari untuk berkomunikasi, bahkan tidak tergantung lagi perjumpaan untuk mengekspresikan gagasannya atau mengetahui perkembangan didaerah sekitarnya.
Hal Inilah yang menjadi tantangan bagi Pancasila saat ini, dan disinilah terjadi kesenjangan antara nilai-nilai pancasila dari generasi SBX ke generasi milenial. Nilai-nilai pancasila yang terkait dengan norma-norma kehidupan menjadi sangat abstrak bagi generasi milenial yang tidak punya kaitan emosional dengan masa ketika nilai-nilai itu dicetuskan.
Pancasila yang semula menjadi pedoman kini telah mulai ditinggalkan. Pancasila yang semula harus diamalkan kini hanya dijadikan hafalan semata. Akibatnya, tak heran banyak orang yang melanggar hukum dan merusak moral. Banyak kasus hukum yang menimpa masyarakat bawah hingga pejabat publik. Ini karena mereka yang enggan menerapkan norma-norma yang terdapat dalam lima sila pancasila.
Jika kita terus membiarkan generasi milenial lalai terhadap hal ini atau mungkin generasi ini tidak akan menerapkan nilai-nilai Pancasila seutuhnya. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah kedepannya generasi ini rentan akan perpecahan. Bisa kita bayangkan puluhan tahun ke depan, mungkin saja Pancasila hanya menjadi kenangan saja dan bangsa ini akan menjadi negara tanpa aturan, tanpa etika, dan dipenuhi oleh para pemberontak.
Untuk itu agar tidak jatuh pada kesalahan yang lebih dalam, sudah seharusnya kita harus bertindak yaitu dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diri masing-masing. Dengan begitu generasi milenial tidak hanya terfokus pada kemewahan yang ada, akan tetapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bahkan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
“Ini adalah tugas kita yang utama untuk membantu mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia”

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Saya wanita biasa, melalui tulisanlah saya mencurahkan apa yang ada difikiran saya. :) Fb : Suci Ig : @Baitiiii

12 Jam Sebelum Melahirkan