Aku dan Jelajah Toleransi


Mari kita bercerita,

Malam ini perut ku sungguh kenyang maklum beberapa menit yang lalu baru saja ku habiskan satu porsi Sushi, Takoyaki, dan Ramen. Hehe.
Ada banyak hal ingin kuceritakan di sisa-sisa malam ini, cerita perjalanan ku beberapa minggu yang lalu. Perjalanan yang membawaku pada pengalaman baru, keluarga baru, bahkan hal-hal yang belum pernah ku temui. Perjalanan singkat namun penuh makna, bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda.
Cerita ini dimulai saat aku lagi duduk santai di sore hari, saat itu aku lagi main instagram. Dengan iseng aku membuka beranda, melihat berbagai foto dan caption yang menarik. Tanpa sengaja aku melihat temanku meng-upload foto poster kegiatan Jelajah Toeleransi, aku mencoba cari tahu dan ternyata hari itu adalah hari terakhir daftar untuk ikut kegiatan tersebut.
Ku ikuti langkah-langkah persyaratannya, mengisi biodata, cv, mengirim karya, scan ktp, ktm, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilotarkan. Setelah selesai mendaftar aku hanya berdoa agar aku lolos. Selang beberapa minggu kemudian , salah satu teman ku memberitahu bahwa aku lolos. Kucoba cek, ternyata benar aku lolos.
“Ya Allah, senangnya aku”
Ku coba beritahu orangtua dan teman sekitarku, mereka juga turut senang. Lalu, aku konfirmasi kepada panitia bahwa aku bersedia untuk mengikuti serangakian kegiatan tersebut, dari pembekalan , jelajah, hingga pasca jelajah.
27 September 2019
Singkat cerita aku berangkat bersama salah satu teman yang juga lolos dalam kegiatan ini, panggil saja Feli. Meski pesawat kami sempat delay beberapa jam. Akhirnya kami sampai dilokasi sekitar pukul 22.00 WIB. Perjalanan panjang yang melelahkan, tapi kami menikmatinya. Setelah sampai dilokasi kami disuruh masuk ke ruangan, dimana teman-teman dari Provinsi lain sudah berkumpul untuk menunggu kedatangan kami. Haha , seneng sih tapi malu juga. Aku dan feli memperkenalkan diri secara singkat, setelah itu kami ikut berbaur dengan yang lainnya. Ternyata tepat malam itu, kita semua di bagi kelompok. Setiap kelompok terdiri 10 orang. Karena masing-masing kelompok akan pergi ketempat yang berbeda, ada yang pergi ke Poso, Ambon,Batu Malang, Pengandaran, dan Wonosobo.

Alhamdulillah, aku masuk di kelompok Batu Malang. Selain aku, ada juga Nisa, Devi, Aulia, Ira, Kornel, Dodi, Dohew, Ridwan, dan Romi. Tadi nya aku gak kenal mereka, tapi kami kenalan kembali. Mereka asik, heboh, dan baik. Ditambah pendamping kami yang juga imut-imut manis,  yaitu kak Faqih. Wkwk

Di hari pembekalan ke 2 dan 3, kami dikasi materi yang cukup banyak. Ilmu baru dan pengalaman baru tentunya. Entah kenapa, saat disana aku menjadi sosok yang pendiem. Sosok yang gak terlalu pengen tau, atau banyak tanya. Aku saja bingung, haha.

30 September 2019 (Penjelajahan dimulai)
Angin yang dingin dan terasa segar segera mengusap wajah begitu aku membuka kaca mobil yang hendak menuju ke bandara. Jalanan pada hari itu Senin (30/10) tepat pukul 03.00 dini hari tampak sudah ramai dilalui kendaraan roda 2 dan 4. Suara kendaraan lalu lalang, serta suara hiruk pikuknya masyarakat yang sedang beraktivitas dapat ku lihat dan ku dengar dari baliknya kaca mobil yang baru saja ditutup oleh pak supir.
Setiba dibandara, ternyata ramai sekali orang yang hendak pergi. Sembari menunggu keberangkatan, aku dan teman-teman menyempatkan diri untuk sarapan nasi kuning yang sudah disiapkan oleh panitia dari tempat penginapan. Yaash, akhirnya kami pun berangkat ke Malang. Kurang lebih 2 jam kami berada di pesawat, tepat pukul 09.00 kami tiba di bandara kota Malang.
Di balik pintu sana, tampak 2 gadis ayu dan 2 lelaki gagah yang sedang menunggu kedatangan kami. Siapalagi kalo bukan fasilitator dan mahasiswa lokal yang akan menemani kami selama menjalankan projek disini. Panggil saja mbak lilis, Mita, mas Anto , dan bg Azizi.

Baru saja beberapa menit di Kota Malang banyak hal baru yang aku temui di sini, salah satu nya kami mengunjungi kampong warna-warni. Kampong warna-warni memiliki sejarah yang unik, ada cerita dibalik semuanya. Dulu nya kampong ini kumuh, hingga muncul inisiatif dari beberapa mahasiswa Ilmu Komunikasi Muhammadiyah Malang dan masyarakat sekitar untuk mengecat kampong ini. Hingga sekarang kampong ini menjadi  salah satu tempat wisata, tidak hanya masyarakat lokal yang mengunjungi nya banyak turis yang turut serta mengabadikan foto ditempat yang menarik ini.
Setelah dari sana, kami pergi untuk makan siang dan menuju ke penginapan. Hari pertama di Malang kami habiskan untuk istirahat dan brafing untuk hari esok. Di penginapan aku sekamar sama Mita, kami sama-sama baru kenal jadi agak sedikit canggung. Mau bicara banyak juga gak enak, hehe jadi sore itu kami habiskan untuk tidur.
Malam nya kami breafing, mulai dari evaluasi, menceritakan hal baru apa saja yang ditemui hari ini, dan sebaiknya melakukan apa di hari esok. Malam itu diwarnai dengan suasana yang riyuh, ditambah dingin angin malam yang semakin mencekam. Akhirnya Kita sudahi perbincangan dimalam itu dan masing-maising menuju kamar untuk beristirahat..

Bersambung.





Lahan Sawit Subur, Rakyat Kalbar Makmur. (Hari Keanekaragaman Hayati 2019)


“Dari tahun ke tahun, permintaan kelapa sawit terus meroket. Tak ayal, tanaman berjuta manfaat ini pun menjadi sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat, termasuk rakyat Kalimantan Barat.”

Selama masyarakat Indonesia suka masakan yang digoreng, selama itu pula industri kelapa sawit akan berjaya. Ya, minyak goreng tidak terpisahkan dari konsumsi manusia sehari-hari. Tidak hanya minyak goreng, masih banyak benda-benda di sekitar kita yang berasal dari minyak kelapa sawit. Negeri ini pun beruntung, karena dianugerahi oleh Tuhan minyak nabati yang amat banyak nilai gunanya.
Crude Palm Oil (CPO), minyak kelapa sawit mentah yang sedang “mekar-mekarnya” di Indonesia tengah menebar benihnya tidak hanya di negeri ini, tetapi juga sudah harum di pasar mancanegara. Tingginya angka ekspor CPO Indonesia pun menobatkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit nomor satu dunia. Terlepas dari problematika yang meliputinya, kita tidak bisa menyangkal bahwa bangsa ini sangat terbantu dengan hijaunya kelapa sawit berhektar-hektar di perkebunan kita.
Ternyata berseminya ranah agribisnis tanah air tidak hanya membawa angin segar bagi perekonomian petani, tetapi lebih jauh lagi, merambah ke sektor pembangunan daerah tertinggal di pelosok negeri. Provinsi dengan indeks pembangunan manusia yang rendah di pelosok negeri umumnya memiliki potensi dalam hal sumberdaya alam dan sumberdaya lahan. Oleh karena itu, potensi pertanian memberi harapan besar bagi daerah-daerah yang belum tersentuh pembangunan. Hal ini pun sejalan dengan salah satu butir nawa cita, yaitu desentralisasi pembangunan. 
 Kalimantan Barat adalah salah satu pilar dari semesta agraria nusantara yang perekonomiannya ditunjang oleh sektor perkebunan. Berdasarkan hasil ST2013 mencapai 631.281 rumah tangga, yang mana sebanyak 497.489 rumah tangga (79,26 persen) berusaha di sektor perkebunan. Provinsi ini juga merupakan contoh dari beberapa daerah yang merasakan cerahnya prospek berkebun kelapa sawit, bagaikan menemukan ladang mutiara. Disamping perkebunan karet, kelapa, dan nipah, kelapa sawit sangat diandalkan.
Pernah suatu hari aku mencoba turun lapang meninjau luasnya kebun sawit di daerah Sungai Arus Deras, Kecamatan Teluk Pakedai Kalimantan Barat. Di sebuah menara tinggi, menara api namanya, aku mengamati indahnya bentangan kelapa sawit yang tersusun rapi. Indahnya bumi cakrawala yang dihiasi hijaunya kebun sawit tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi majunya tanah kelahiranku ini. 
Industri kelapa sawit yang terus tumbuh setiap tahunnya dapat dilihat dari bertambahnya jumlah luas areal, jumlah produksi, serta tenaga kerja yang dibutuhkan. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Indonesia, pada tahun 2016 jumlah total luas area perkebunan kelapa sawit mencapai 8 juta hektar, ini meningkat dua kali lipat dari tahun 2000 saat itu masih sekitar 4 juta hektar. Tak heran jika kelapa sawit menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar negara dan membuka lapangan kerja yang luas untuk masyarakat.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mencerminkan distribusi pendapatan yang merata, melainkan hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, masyarakat perkotaan. Sedangkan masyarakat pedesaan atau pinggiran hanya mendapat porsi yang kecil. Dengan adanya pembangunan perkebunan kelapa sawit di berbagai wilayah Kalimantan Barat, kemiskinan dan keterbelakangan khususnya di daerah pedesaan dapat direduksi. Karena pada dasarnya, tujuan dari pembangunan tidak lain adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat secara adil dan merata.
Di samping itu berkembangnya perkebunan kelapa sawit merangsang tumbuhnya industri pengolahan yang bahan bakunya dari kelapa sawit. Pembangunan perkebunan kelapa sawit mempunyai dampak ganda terhadap ekonomi wilayah, terutama dalam menciptakan kesempatan dan peluang kerja. 
Optimalisasi perkebunan kelapa sawit ini telah mencurahkan berjuta manfaat (trickle down effect), serta memperluas daya penyebaran (power of dispersion) ekonomi pada masyarakat sekitarnya. Semakin berkembangnya perkebunan kelapa sawit, semakin terasa dampaknya terhadap tenaga kerja yang bekerja pada sektor perkebunan dan sektor turunannya. Dampak tersebut dapat dilihat dari peningkatan pendapatan masyarakat petani, yang berujung pada meningkatnya daya beli masyarakat pedesaan. Daya beli meningkat, maka roda perekonomian semakin cepat berputar.

Dari potensi yang ada, maka pembangunan perkebunan kelapa sawit di daerah Kalimantan Barat juga akan membuka peluang pembangunan industri hulu-hilir kelapa sawit, membuka peluang usaha, tumbuhnya diversifikasi usaha, dan meningkatkan sumber devisa bagi daerah Kal-Bar. Pembangunan ini juga akan membuka peluang kerja di daerah dan akan menumbuhkan sektor ekonomi lainnya yang pada gilirannya akan memunculkan daerah-daerah baru sebagai pusat-pusat pertumbuhan wilayah (Almasdi Syahza, 2007).
Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa kelapa sawit bisa menjadi primadona, mengalahkan komoditi-komoditi pertanian lainnya. Yuk, kita ulas satu per satu!
Tanaman Berjuta Manfaat
Tidak hanya ibu rumah tangga dan tukang gorengan, minyak kelapa sawit memberikan banyak manfaat di berbagai dimensi kehidupan. Tanpa minyak sawit, tidak akan ada wanginya sabun mandi, lembutnya mentega untuk kue dan martabak. Minyak sawit juga dibutuhkan oleh produsen cat, pelumas, lotion, dan cream kulit.
Produk utamanya, apalagi kalau bukan minyak goreng. Bahan baku masakan yang wajib adadi setiap dapur ini adalah yang paling baik dibanding jenis minyak nabati lainnya dalam urusan menggoreng. Tersusun atas 50 persen asam lemak jenuh dan 50 persen asam lemak tak jenuh, membuat stabilitas minyak goreng sawit tinggi. Selain itu tidak mudah tengik, menghasilkan produk gorengan lebih awet, dan tidak mengandung radikal bebas tinggi.
Energi Terbarukan
Kesadaran masyarakat dunia akan penggunaan energi hijau semakin meningkat seiring meluasnya destruksi alam yang terjadi di era modern ini. Energi alternatif biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit banyak dikembangkan sebagai bahan bakar non fosil terbarukan (renewable energy).
BiodieseL/biosolar kini semakin banyak digunakan oleh masyarakat dan pelaku industri yang umumnya membutuhkan bahan bakar tersebut untuk mengangkutan hasil kebun dan tambang, serta distribusi komoditas lintas daerah. selain untuk kendaraan, biodiesel juga sering dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dan bahan bakar untuk genset.
Jadi Petani Sawit, Siapa yang Tak Mau?
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Indonesia, jumlah total luas area perkebunan kelapa sawit mencapai 8 juta hektar pada tahun 2016, ini meningkat dua kali lipat dari tahun 2000 saat itu masih sekitar 4 juta hektar. Jumlah ini akan terus meningkat mencapai 13 juta hektar lahan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2020. Sungguh prospektif, bukan?
Industri sawit nasional kini menjadi andalan dan motor penggerak perekonomian masyarakat. Para pekerja sawit umumnya mengaku memperoleh penghidupan yang lebih layak dari pertanian sawit ini. Salah satunya adalah, Djupika, yang bekerja di kebun sawit daerah Terentang. “Kerje di sawit dengan hasil yang aku terima sih, sesuai lah, cukoplah.” ujarnya, ketika ditanya via telefon.
Menurut SKB-S (Survey Subsektor), sebanyak 42,72 persen pekebun kelapa sawit di Kalimantan Barat hanya tamat SD. Itu berarti lapangan pekerjaan yang terbuka dari kebun sawit tidak hanya diperuntukkan bagi kaum intelek, tetapi juga yang berlatarbelakang pendidikan rendah. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2003 dengan Sensus Pertanian 2013, selama kurun waktu 10 tahun terjadi peningkatan sebesar 16,9 persen pada jumlah rumah tangga usaha perkebunan di Kalimantan Barat, dari 425.563 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 497.489 rumah tangga pada tahun 2013.
Hal senada juga diutarakan Neli Yanti Rizki, pekerja di sebuah perusahaan pengolahan sawit di area Kubu Raya. Ia berpendapat bahwa perkembangan perekonomian khususnya di area Kubu Raya yang berdekatan langsung dengan kebun sawit sangat menguntungkan, karena mereka yang tinggal di dekat perusahaan sawit mendapatkan kompensasi yang besar. Benefit yang diterima masyarakat yaitu:
-        Mengurangi angka pengangguran
-        Membuka akses jalan raya, dari yang sebelumnya mengandalkan motor air untuk distribusi kelapa sawit.
-        Menambahkan PAD dari sisi pajak, dan perizinan.
-        Meningkatkan daya beli masyarakat
Menumbuhkan Kelapa Sawit, Menumbuhkan Kesejahteraan
Di Kalimantan, Sumatra, Papua, dimana industri sawit sedang bertumbuh, kini menikmati pembangunan daerah yang lebih kencang. Infrastruktur, perekonomian, dan kesejahteraan penduduk meningkat. Semua terlihat jelas dalam kacamata pembangunan. Seharunya poin inilah yang kita jadikan pijakan dalam menilai keberadaan industri sawit. Atau bisa juga mendefinisikan hal itu menjadi istilah keramahan industri kelapa sawit.
Optimasi lahan untuk budidaya kelapa sawit telah berdampak secara langsung pada peningkatan pendapatan petani, masyarakat, dan pemerintah daerah. Dampak positifnya menjangkau berbagai dimensi kehidupan, salah satunya melahirkan kondusivitas keamanan dan kerukunan antara masyarakat di Kalimantan Barat. Hal ini pun pada akhirnya mengundang ketertarikan investor dari luar Kalimantan Barat untuk menanamkan modalnya di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.
Sektor pertanian yang dalam hal ini subsektor perkebunan telah menggerakkan perekonomian masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, memberikan akses jalan bagi masyarakat di tempat yang sebelumnya sulit terjangkau, menyerap tenaga kerja dan juga memberikan kontribusi dalam penerimaan pajak di daerah Kalimantan Barat. Menurut Kanwil DJP Kalimantan Barat, kontribusi sawit dalam penerimaan pajak mencapai 20,79 persen.
Dengan segala keuntungan yang ditawarkan, Kalimantan Barat berencana melakukan perluasan perkebunan kelapa sawit terbesar, yaitu mencapai 5,02 juta hektar (Badan Penanaman Modal Daerah Kalimantan Barat, 2014). Itu artinya, sektor pertanian dan perkebunan akan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Kal-bar.

Penulis : Suci Nurul Baiti
Hari Keanekaragaman Hayati 2019
#IDB2019KKH

Kembalikan Hutan Hijau di Kota (Hari Keanekaragaman Hayati 2019)

      (kebakaran-hutan-melanda-ibu-kota-kalimantan-barat-20-hektare-lahan-gambut-terbakar)


Beberapa tahun yang lalu sering sekali terjadi penebangan hutan. Baik itu dilakukan oleh perorangan maupun oleh badan usaha. Penebangan hutan dibenarkan jika yang melakukan telah memiliki izin menebang pohon dihutan. Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pengertian hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan akan tetap lestari jika kita mau melestarikannya, sebaliknya jika tidak dilestarikan maka hutan akan mengalami kepunahan terhadap ekosistem hutan tersebut. Hutan adalah paru – paru dunia yang dapat menyerap karbondioksida dan menyediakan oksigen bagi kehidupan dimuka bumi ini. Melihat kondisi hutan indonesia  sekarang masuk pada fase sangat menghawatirkan, Maka dari itu hutan harus terjaga keberadaannya.
Kepunahan dan kerusakan hutan ini salah satunya disebabkan dengan adanya penebangan hutan secara liar. Jika kita berkaca pada beberapa tahun yang lalu, asab kabut yang menyelimuti beberapa daerah khususnya Kota Pontianak disebabkan dengan adanya penebangan hutan dan pembakaran hutan secara liar. Selain itu faktor yang merugikan bagi masyarakat ialah banjir serta tanah longsor dimusim penghujan.
Penebangan hutan secara ilegal ini juga menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi hutan itu sendiri maupun lingkungan di sekelilingnya. Secara umum, dampak penebangan hutan menyebabkan: pertama, masalah pemanasan global, kedua, masalah degradasi tanah, dan ketiga, mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati di dalamnya. Berbicara mengenai masalah pemanasan global, pengalaman pribadi penulis terhadap kasus yang terjadi di Kota Pontianak khususnya Pontianak Barat ialah jika beberapa tahun lalu masih bisa dirasakan angin pagi yang segar, udara yang sehat, dan pemandangan yang asri, akhir-akhir ini semua seolah semakin punah. Adanya penebangan hutan yang dilakukan oleh badan usaha untuk pembangunan, membuat suasana yang hijau seolah hilang diterka bangunan-bangunan megah. Jika dulu masih tampak burung elang, burung gereja beterbangan liar diudara pada sore hari kini untuk ditemui bahkan dilihat sangat sulit. Jadi jelas, penebangan hutan yang dilakukan oleh perorangan maupun badan usaha bisa mempercepat kepunahan keanekaragaman binatang didalamnya.
Manusia pernah hidup dekat dan bersahabat dengan hutan. Namun kedekat-akraban yang telah terjalin sekian lama itu kemudian dirusak oleh manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan karena ketidak-sadaran manusia terhadap kebutuhan adanya “fungsi hutan” dalam pengelolaan lingkungan hidup manusia. Manusia modern pada abad ini, secara sadar atau pun tidak telah menjauh sisihkan hutan. Sebagian manusia telah lupa bahwa hutan yang selama ini dibutuhkan dalam hidup dan kehidupannya, kini ditinggal bahkan dirusak. Kemajuan kebudayaan manusia telah menjadikan lingkungan hidupnya yang semula berhutan kini menjadi hutan besi dan beton. Padahal hijaunya lingkungan Kota tidak hanya menjadikan tempat kita tinggal dan bekerja menjadi indah, sejuk dan nyaman, namun aspek kelestarian, keserasian, keselarasan dan keseimbangan sumberdaya alam dan lingkungan, yang pada giliran selanjutnya akan membuktikan jasa-jasa berupa lingkungan yang nyaman dan segar serta terbebasnya kita dari polusi dan kebisingan.
Penebangan hutan secara liar harus dihentikan, jika terus dilakukan kemungkinan besar daerah kita akan menjadi daerah yang rawan akan banjir dan kerusakan-kerusakan lainnya akan mudah terjadi. Bukan kah nilai kualitas suatu lingkungan akan sangat menentukan kuatnya negara dan masa depan bangsa. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan ialah :
1.        Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul
Penanaman kembali hutan yang telah gundul atau tandus disebut dengan Reboisasi. Reboisasi hanya dilakukan di hutan atau lahan yang kosong atau gundul, tentunya hutan yang dimaksud adalah hutan yang telah ditentukan oleh peraturan. Dengan demikian, membuat hutan yang baru pada area bekas tebang habis, bekas tebang pilih, lahan gundul ataupun pada lahan kosong lainnya yang terdapat di dalam kawasan hutan itu termasuk kedalam reboisasi. Tujuan dari reboisasi ini yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup makhluk hidup khususnya manusia melalui kualitas peningkatan sumber daya alam. Dengan kembalinya fungsi hutan maka dapat menghindarkan lingkungan hidup dari polusi udara, kembalinya ekosistem dan dengan reboisasi dapat menanggulangi global warming.
2.        Melarang pembabatan hutan
Dengan melarang pembabatan hutan secara tegas, maka kemungkinan besar para penebang hutan secara liar akan takut untuk melakukannya.
3.        Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon
Dalam kehutanan, tebang pilih berarti menebang kayu berkualitas terbaik di suatu area hutan. Pohon-pohon yang pertumbuhannya terhenti, lambat, atau berbentuk tidak keruan akan mempertahankan kondisi ekologis di area hutan yang ditinggalkan oleh penebang, terutama jika diperkirakan bahwa pohon-pohon tersebut mengalami pertumbuhan yang lambat karena faktor kompetisi. Tebang pilih juga memberikan kesempatan bagi area hutan untuk mempertahankan spesies pohon tertentu.
Berlawanan dengan tebang pilih yang umum, tebang pilih juga bisa berarti memotong pohon berkualitas rendah sebagai metode pembiakan selektif sehingga pohon yang tersisa dan bertahan di hutan tersebut merupakan hasil pembiakan pohon kualitas terbaik yang tidak berkompetisi dengan pohon berkualitas rendah.
Pemerintah harus menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon. Hal ini dapat mengurangi penebangan hutan secara liar dan dalam jumlah besar – besaran. Selain itu system ini juga berguna untuk masyarakat agar tidak sembarang dalam melakukan penebangan hutan.
4.        Menerapkan sistem tebang-tanam dalam kegiatan penebangan hutan
System ini sangat berguna bagi pelestarian hutan. Sistem penebangan hutan yang kemudian diganti dengan menanam hutan yang telah ditebang, agar hutan tetap terjaga keberadaannya.
5.        Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan

Selain masyarakat yang harus menjaga kelestarian hutan, pemerintah juga harus ikut terlibat dalam pelestarian hutan. Pemerintah harus ikut turun tangan dalam pelestarian hutan ini. Sebaiknya, pemerintah juga memberikan sanksi yang berat bagi para pelakunya, yang bisa membuat mereka jera dan tidak melakukan kesalahan mereka lagi.
Namun, upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan selain disebutkan diatas. Pemerintah juga sudah membangun hutan kota yang berada di taman-taman. Misalnya yang terdapat di area Kota Pontianak, pemerintah telah membangun hutan kota seperti di Taman Alun-alun Kapuas, Taman Akcaya, Taman Digulis, dan taman-taman lainnya. Sehingga hal ini, bisa dikatakan pengembalian hutan-hutan yang hilang di Perkotaan.  Meskipun demikian, oksigen yang sehat masih saja sulit untuk didapat. Maka dari itu pohon  harus dijaga,  karena jatah oksigen untuk satu manusia berbanding dengan 3 pohon.
Oleh karena itu  sebagai warga Negara Indonesia kita wajib untuk menjaga dan berpartisipasi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia ini, terkhusus didaerah yang kita tinggal.  Agar ekosistem tetap seimbang dan dapat berjalan dengan baik. Kenali semesta, lestarikan alam. Karena aka nada generasi selanjutnya, yang juga akan menikmati kekayaan alam ini.
Penulis : Suci Nurul Baiti
Hari Keanekaragaman Hayati 2019
#IDB2019KKH

Teruntuk Teman Kuliahku


           
Sore ini begitu cerah, awan tak menutup indahnya langit. Hingga sinar mentari tepat meresap ke dalam kulitku. Saat ini aku lagi duduk didalam ruangan sembari mendengarkan lagu galau dan menikmati segelas cappuccino es. Sudah lama rasanya tangan ini tak merangkai kata, entahlah apa karena kesibukan yang selalu menghantuiku atau karena sifat malas ini mulai menjadi penyakit ku. Lagi-lagi, entahlah.
Setahun belakangan ini banyak hal yang ingin aku ceritakan. Dari lingkup perkuliahan, pekerjaan, percintaan, atau hubungan social ku. Ditahun ini, aku sudah duduk di semester 8. Itu artinya sudah habis mata kuliah ku, hingga aku harus fokus pada skripsi . Jika tiap hari nya aku bisa melihat senyum manis teman-teman ku, tapi untuk saat ini dan seterusnya aku fikir tidak akan bisa lagi. Semua sudah sibuk pada pada hal nya masing-masing, ada yang sibuk kerja, ada yang sibuk organisasi, ada yang sibuk melanjutkan hobby, dan kesibukan lainnya.
Teruntuk kalian, teman dudukku selama 7 semester semoga kita semua bisa menemukan kesuksesan masing-masing. Ingat lah, bahwa kita pernah bersama. Bersama bukan bearti untuk melupakan, kebersamaan yang pernah kita lalui akan menjadi kenangan di kemudian hari. Jika dalam pertemanan selama ini, kita pernah menyimpan dendam ‘maafkanlah’ , tak kan bearti semua dendam itu. Tentunya kita semua ingat, bagaimana pertama kali kita kenal kita tersenyum kita bersorak kita tepuk tangan, semua terasa indah jika kita kembali pada ingatan tiga tahun silam.
Ketahuilah kawan, lama tak bersua bukan bearti segan menyapa. Tegurlah teman mu, jabatlah tangannya, ajak lah ia berbicara, Tanya lah kesibukannya sekarang, semua yang dilakukan itu tak akan merugikan. Semua itu akan lebih memperkuat tali persaudaraan kita. Harapku untuk kita semua, semoga tak ada kata ‘canggung’ ketika kita berjumpa, semoga semua tetap dalam keadaan dan jalan yang baik, dan semoga kita bisa bertemu dan berkumpul lagi.
Teruntuk semua temanku, aku merindui mu.


Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Saya wanita biasa, melalui tulisanlah saya mencurahkan apa yang ada difikiran saya. :) Fb : Suci Ig : @Baitiiii

12 Jam Sebelum Melahirkan