Gak Penting juga sih, mending jangan dibaca..

Pagi itu (30/5) cuaca cukup cerah, membuat sebagian mahasiswa bersemangat untuk kuliah “termasuk aku”. Meski diri sedang berpuasa, hal ini tak menjadi penghalang bagi seseorang yang ingin menuntut Ilmu. Langkah kaki diniatkan karena lillahita’ala, berharap ilmu yang didapat akan berkah kedepannya.
Ketika masuk kedalam ruangan, suasana masih sepi hanya ada aku dan Deni. Lelaki yang memiliki postur tubuh hampir sama denganku ini, sedang melamun sembari menunggu yang lain. Tak ubah nya, aku pun ikut duduk dan sedikit bernyanyi.
Satu per satu teman yang lain pun mulai datang, suasana kelas semakin riuh. Tampak dari kejauhan dosen yang ditunggu datang. Ya suasana mulai sunyi, karena akan berlangsung mata kuliah pertama. Hari ini aku dkk belajar ma-kul Berita 2.
Dimana, dari mata kuliah ini lah aku mulai bisa menulis berita ya mungkin masih jauh dari kata sempurna. 

RAPAT MENUJU MILAD LPM


“Bukan hanya manusia yang bisa bertambah umur. Akan tetapi, organisasi yang dibentuk pun juga bisa bertambah umur disetiap tahunnya.”
            Malam itu (21/5) suasana cukup kondusif bagi anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta IAIN Pontianak untuk mengadakan rapat. Rapat tersebut guna membahas agenda Milad LPM. Genap tahun ini LPM menginjak usia ke-13 tahun. Rapat yang hanya di hadiri 6 anggota dari sekian banyak anggota tersebut cukup berjalan dengan lancar.
                               
            LPM merupakan salah satu organisasi yang cukup terkenal dengan berita-berita hangat nya disekitar kampus. LPM dibentuk sudah beberapa puluh tahun yang lalu, namun baru di sah kan kembali sekitar tahun 2000’an.
            Anggota LPM yang sedang membahas rapat tersebut sangat semangat dan penuh harap. Karena, beberapa minggu lalu agenda yang bertemakan Talkshow, yang direncanakan pada tanggal 20 Mei itu gagal total. Tapi tidak mengapa, gagal bukan bearti berhenti bukan?
            Ketua LPM, sebut saja Zamal Saputra berinisiatif untuk menggantikan agenda Talkshow tersebut dengan Ramah Tamah, sehingga perayaan Milad LPM tetap dilaksanakan walau tidak sesuai harapan sebelumnya.
Milad LPM akan dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2017 pada pukul 19:00 WIB. Agenda tersebut akan menghadiri para senior, dan mengundang UKM UKK yang ada dikampus serta Mimbar Untan dan Terkam Polnep.
Harapan besar bagi kami adalah semoga agenda ini dapat berjalan dengan lancar, dan semoga LPM Warta tetap berjaya serta menciptakan para wartawan yang handal. (22/05)




"DEADLINE" Curahan Hati Mahasiswa Sok Sibuk

Malam ini jemari ku mulai mengetik huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, hingga menjadi suatu kalimat. Aku pun tak tau, apa sebenarnya yang kutulis. Namun inilah yang sedang aku fikirkan, ingin meluapkan rasa yang sesak di dada.
Dengan ditemani sebotol minuman, membuat fikiranku sedikit fresh. Ditambah musik mellow fikiran ku pun mulai menari-nari mengeluarkan ide. Lagi-lagi aku sendiri tak tau darimana datangnya ide tersebut.
Sejenak ku merenung, kata “Deadline” yang terpampang di depan cermin kamar, muncul disalah satu pemikiranku. Hal itu lah yang membuat aku kembali terpuruk dalam kegundahan.
Ku coba tatap jalanan yang berada didepan pandangan mata, tampak hujan sedang berjatuhan, angin dingin pun mulai menampar halus kulitku hingga dada yang terasa sesak kini dingin sejenak.
Ku perhatikan keadaan sekitar, semua sibuk dengan gadged masing-masing. Hingga mengabaikan entah siapa yang datang dan pergi. Lantas aku, ? apakah aku sama seperti itu? Disini aku duduk sendiri dengan menghadap laptop, sesaat meminum minuman yang nikmat walau tak seberapa mahal harganya. Ya sama seperti mereka, tak menghiraukan keadaan sekitar.
Kembali dengan kata “Deadline”, setiap waktu fikiranku selalu dihantui dengan deadline tugas. Waktu berlalu begitu cepat, hingga aku bingung siapa sebenarnya yang salah. Aku ? atau Waktu ?Aku terlalu sibuk dengan kepuasanku, hingga mengabaikan tugas yang tiap hari nya teriak ingin diketik.
Sampai dimana semua harus terselesaikan, aku hanya bisa merenung dan menjatuhkan air mata.Nyesal ? sedikit, tapi yang menjadi pertanyaanku. 
Kenapa saat ingin mengerjakan tugas aku malas, namun ketika hendak mengerjakan sesuatu yang jauh dari kata tugas aku begitu semangat. Entah lah, lagi lagi aku hanya bisa berkata entahlah.

"Mahasiswa", Mandiri Biaya dengan Beasiswa

"Suatu hal yang lumrah bagi mahasiswa, ketika berharap mendapatkan beasiswa di tempat ia mengemban pendidikan”.
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak merupakan salah satu kampus Islam yang berada di Kalimantan Barat. Mahasiswanya yang begitu ramai, berbanding pula dengan berbagai macam beasiswa yang di suguhkan. Tidak heran jika banyak yang bersaing demi mendapatkan beasiswa.
Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan. Dengan bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa tersebut dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan.
Waktu itu salah satu dari sekian beasiswa yang ada, sangat di kejar-kejar oleh mahasiswa. Apalagi kalau bukan “Beasiswa GenBi”, nominal yang dipaparkan cukup besar sehingga banyak yang bersaing untuk mendapatkannya. GenBi yang merupakan singkatan dari Generasi Baru Indonesia merupakan komunitas penerima beasiswa Bank Indonesia yang dibentuk di beberapa perguruan tinggi negeri Indonesia.
Di IAIN Pontianak itu sendiri, beasiswa GenBi  dibuka pada tanggal 13-28 Februari lalu dengan proses yang melalui 2 tahap. Tahap pertama seleksi administrasi yang hanya diterima 80 orang dan tahap ke dua wawancara dan diterima hanya 40 orang.
Salah satu mahasiswi IAIN Pontianak, sebut saja Sri Mujiyanti merupakan mahasiswi jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang lolos beasiswa GenBi dalam tahap pertama. Ketika hendak mengikuti tahap ke-2, ia harus melalui proses wawancara yang mana terdiri dari 80 orang.
Ketika memasuki bulan April, beasiswa lain juga mulai dibuka. Seperti beasiswa Dipa, Tahfidz, dan Telkom. Aku yang merupakan teman sekelas nya, mencoba untuk mengajak nya ikut daftar dalam beasiswa tersebut. Karena pada tahun sebelum nya, kami ber-2 juga lolos dalam beasiswa Dipa yang kami ikuti. Bagi kami beasiswa Dipa lebih mudah diharapkan daripada beasiswa yang lain. Mula nya ia merasa ragu, karena di beasiswa GenBi ia hanya tinggal menunggu pengumuman “lolos/tidak”.
                           (https://uts.ac.id/wp-content/uploads/2016/05/beasiswa.png)
Seriring berjalan nya waktu, tanggal berakhir pengumpulan berkas sudah semakin dekat. Namun pengumuman beasiswa GenBi yang dijanjikan pada bulan April pun tak kunjung keluar juga. Sri yang mulai ragu akan lolos/tidak nya ia di beasiswa GenBi, mulai membuka sedikit pemikiran agar ikut daftar di beasiswa Dipa. Dengan penuh keraguan, Sri mulai menyiapkan berkas-berkas untuk mendaftar beasiswa Dipa. Proses yang dilalui Sri cukup panjang dan lama.
“Prosesnya lumayan panjang, apalagi saya harus minta surat keterangan pekerjaan dan penghasilan orang tua dari desa. Perjalananya juga butuh waktu yang cukup lama untuk dikirim. Karena rumah saya jauh dari kota.” Jelasnya.
Meskipun demikian, Sri tetap sabar akan menunggu kiriman surat keterangan pekerjaan dan penghasilan orangtua nya dari desa yang berada di daerah Ketapang.
Tanpa terasa siang pun mulai berganti malam, malam berganti pagi. Hari penutupan penerimaan berkas semakin dekat kiranya sudah H-2. Hambatan yang dilalui Sri begitu panjang, selain lama menunggu surat keterangan pekerjaan dari desa.  Ia juga  harus menunggu dosen untuk TTD KHS yang mesti dilegalisir. Karena hal itu merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengumpulan berkas.
Hari terakhir pengumpulan berkas sudah tiba. Aku dan Sri mulai menuju ruangan untuk mengumpulkan berkas. Doa sudah, usaha juga udah, tinggal ikhtiar dan tawakkal saja fikir kami. Hari-hari mulai berlalu, pengumuman GenBi juga tak kunjung tiba. Rasa tak yakin akan lolos di beasiswa GenBi pun, sudah mulai terucap dari bibir manis nya Sri. Ia hanya tinggal berharap, bahwa ia akan lolos di beasiswa Dipa.
Jum’at (12/05), salah satu temanku mengirim pengumuman daftar nama yang lolos di beasiswa GenBi. Ternyata dari sekian banyak nama yang terpampang, nama Sri tidak ada. Artinya Sri tidak lolos di beasiswa GenBi. Ketika ditanya lewat via telephone, Sri merasa sedih karena ia sangat berharap akan kelolosan itu. Namun baginya mungkin ini bukanlah rezki untuk nya.
“Sebenarnya saya sangat berharap sekali dengan beasiswa ini, untuk beasiswa genbi mungkin tahun ini belum rezki saya”. Jawabnya.
Dibalik kesedihan yang sedang menyelimuti malamnya, Allah punya rencana indah untuk Sri. Esok hari ketika ia hendak pergi ke kampus, ia melihat pengumuman Dipa. Dan ternyata di pengumuman beasiswa Dipa namanya terpampang. Sri pun sangat bersyukur atas cerita indah yang Allah ukir di hari nya mengenai beasiswa.
“Alhamdulillah banget berkat dukungan dari orangtua dan teman-teman saya, saya bisa dapat beasiswa dipa, yang awalnya saya masih merasa ragu mau daftarnya tapi apa boleh dikata Allah Swt lah yang memberikan kepada hamba-Nya yang terbaik seperti itu. insyaAllah saya ikhlas dan sangat bersyukur dengan apa yang telah diberikan pada saya”.Ungkapnya.
Ternyata emang benar, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan dibalik kesedihan akan ada kebahagiaan. Meski nominal yang didapat Sri tidak terlalu besar, hal itu sudah membuat Sri merasa bersyukur. Mungkin Allah titipkan rezki kepada-Nya hanya sekian, dengan maksud dan tujuan yang masih tersembunyi di Lauh Mahfudz.
Sri pun menuturkan harapnya pada beasiswa yang ada di IAIN,

 “Saya berharap mudah-mudahan semua beasiswa yang ada di IAIN ini bisa dipertahankan untuk membantu mahasiswa yang memang benar-benar membutuhkan. Dan saya harap kedepannya ada beasiswa yang lain lagi untuk mahasiswa, karena biar semua mahasiswa bisa merasakan mendapatkan penghargaan dari usaha selama dia kuliah ini.” Harapnya. (Minggu, 14/05)

Menjaga Tradisi Islam dan Melayu di Pontianak


Pontianak- Menyambut bulan suci Ramadhan, bermacam tradisi kebudayaan mulai ramai digelar masyarakat di tanah air. Hal ini tak lain dan tak bukan untuk menyatakan rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi antara kaum muslimin, yang sebentar lagi akan melaksanakan ibadah puasa bersama-sama. Berbagai cara dan persiapan telah dilakukan oleh masyarakat untuk menyambutnya. Salah satunya adalah melakukan pawai obor.
Di Kota Pontianak sendiri akan diadakan Pawai Obor dan Penyalaan Keriang Bandong, yang mana kegiatan tersebut bertemakan Pawai 1001 menyambut Ramadhan 1438 H . Dua rangkaian kegiatan yang akan diselenggarkan pada tanggal 24 Mei 2017 di Masjid Raya Mujahidin, Taman Digulis, dan Tugu Khatulistiwa ini, merupakan suatu tradisi umat Islam dan masyarakat Melayu. Sehingga banyak respond positive yang didapat dari masyarakat setempat.
Menurut Robi, salah satu panitia yang ikut serta dalam penyelenggaraan pawai obor. Pawai obor merupakan sebuah tradisi turun menurun yang dilakukan untuk menyambut bulan suci ramadhan yang sebetulnya memiliki pesan dan makna tersendiri .
“Alasan acara ini diselenggarakan sebetulnya kita ingin memberikan pesan kepada masyarakat bahwa kita memiliki budaya yang cukup indah dan tak layak untuk ditinggalkan” jelasnya.

(http://abdulmuinhafied.com/wp-content/uploads/2015/06/pawai-obor.jpg)

Seiring berkembang nya zaman yang semakin canggih dan modern, tanpa disadari secara perlahan tradisi-tradisi yang ada seolah terkikis di makan zaman. Berkat inisiatif dari ALIANSI PERGERAKAN PEMUDA ISLAM (APPI) untuk melakukan acara tersebut, hal ini membuka paradigma masyarakat. Bahwa sudah saatnya lah masyarakat setempat menghidupkan kembali tradisi-tradisi positive seperti ini yang mungkin sudah lama tenggelam.
Selain itu hal ini juga dapat mengingatkan kembali pada masyarakat akan momen-momen indah Ramadhan masa kecil dulu.
“Masyarakat sangat antusias, saat kita publish mengenai acara ini. Karena memang kegiatan semacam ini mengingatkan masyarakat momen-momen indah jelang Ramadhan.” Terang Robi melalui Via telephone.
Kegiatan yang akan berlangsung dalam beberapa hari kedepan, menaruh harap didalam hati Robi.
“Bahwasanya kita sangat berharap kegiatan acara ini akan lebih banyak dihadiri, baik itu dari kalangan anak-anak maupun orang tua. Terlebih khusus bagi para pemuda-pemudi Kal-bar penerus bangsa. Mengingat hal ini merupakan waktu yang pas untuk kembali memperkenalkan atau mengingatkan tradisi melayu kepada khalayak umum.” Sambungnya. (Sabtu, 16/5) 

Note Pen : Bagi masyarakat Pontianak, diharapkan kehadirannya untuk meramaikan kegiatan ini. Terkadang hal positive sungkan untuk dilakukan karena alasan tertentu. Namun disisi lain mengaku cinta akan budaya dan tanah air ? itukah sebenarnya, ciri akhlak penerus generasi bangsa ? (net)




Berusaha Menjadi yang Terbaik

Iya, harus ku akui. Aku memiliki banyak kisah terutama di masa yang telah lalu.
Aku pernah merasakan pahitnya berjalan di arah yang salah
Kelamnya kehidupan tanpa tujuan yang pasti
Tersesat, aku tak berdaya.
Aku pernah menganggap yang haram menjadi halal
laranganNya menjadi sebuah perintah
dan itu bagiku, nafsu sebagai manusia yang tak mengingat sang Maha Pencipta.
Pacaran ?
Iya, aku perrnah.
Mengolok-ngolok yang berpegang teguh pada sunnahNya?
Iya, aku pernah.
Mencela seseorang yang sangat menurut pada aturan dariNya?
Iya, aku pernah.
Ketinggalan jaman, kataku
Terlalu fanatik, pikirku
Jangan ekstrim, jawabku
Aku terlalu akrab pada kemaksiatan, hingga asing pada urusan akhirat.
Kenikmatan dunia yang sesaat, membuatku terlena hingga lupa pada kematian.
Namun tahukah engkau?
Kini aku tertunduk malu atas perbuatanku sendiri, kini aku menyesal atas perkiraanku selama ini.
Asumsi yang selalu ku lontarkan terhadap mereka ternyata salah besar.
Bahkan aku telah mendzolimi mereka yang tidak bersalah.
Sungguh, aku ini adalah seorang pendosa.
Aku ingin kembali pada tugasku yang sesungguhnya.
Walau aku tahu, ini tak mudah. Banyak ujian yang akan menghalangi langkahku.
Mungkin saja itu datang dari temanku, sahabatku, bahkan keluargaku.
Aku memutuskan meninggalkan sedikit demi sedikit hal-hal yang mendekatkan ku pada liang dosa.
Meskipun akan ada yang meninggalkanku sebab aku mulai berbeda.
Sudahlah, kujalani saja ingin ku
Aku tak ingin mati dalam keadaan fasik berkat kemaksiatan yang ku lakukan di dunia.
Meskipun keimanan masih terombang ambing
Aku hanya meminta kepadaNya agar menguatkan hatiku tuk selalu istiqomah dijalanNya
Bagiku, tidak ada kata terlambat.
Tapi ingatlah, ajal tak menunggu kita untuk bertaubat.
Jika niat sudah ada, maka lakukanlah...



Secercah Harapan Sang Presma

(M. Wawan gunawan Ketua Dema/ Presma)         
Kegiatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diselenggarakan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak pada tanggal 1-6 Mei 2017 merupakan MTQ yang ke-2. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 tingkat, yakni pertama untuk sma/ma/pp dan yang kedua tingkat mahasiswa. Kurang lebih 7 Kabupaten kota yang hadir di kampus IAIN Pontianak, seperti Melawi, Kapuas Hulu, Sambas, Singkawang, Mempawah, Kuburaya, dan Kota Pontianak sebagai tuan Rumah.
“MTQ ini sebagai ajang untuk kita mensiarkan agama islam sebetulnya”, ungkap Presiden Mahasiswa.
Ketika kita menyiarkan islam melalui MTQ, sebaiknya kita harus bisa  tanamkan pada pemuda-pemudi yang ada di seluruh Kal-Bar. Dengan harapan mereka bisa membawa dampak positive bagi kawan2 nya dan lingkungan sekolah serta lingkungan luar sekolah. Karena apa? bahwasanya yang rentan terhadap radikalisme dan paham2 yg sedikit ekstrim diluar sana itu adalah kalangan muda. Kalangan muda yang dimaksud itu bukan hanya mahasiswa akan tetapi juga pelajar. Sehingga Wawan (Presma IAIN) sangat berharap kedepannya program ini bisa bersinergi. Dan siapapun nanti yang menggantikan posisi sebagai ketua BEM IAIN Pontianak bisa melanjutkan program ini menjadi MTQ yang ke 3.




(Secercah_Harapan_Sang_Presma)

Spons Gambut Si Penangkal Api

“Ibarat spons, lahan gambut menyerap air ketika musim hujan, menyimpannya, dan melepaskannya ketika musim kemarau." ujar Arifin, Kepala Desa Sumber Agung saat menjelaskan apa itu lahan gambut kepada peserta.
Desa Sumber Agung merupakan desa yang dikunjungi oleh peserta dan panitia Qureta dalam Ekspedisi Kubu. Kegiatan ini merupakan bagian dari Workshop & Kelas Menulis yang dilakukan selama 1 hari 1 malam pada 28-29 April 2017. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengobservasi berbagai potensi yang ada, seperti mengamati potensi kopi, nipah, dan karet.
Desa Sumber Agung menjadi pilihan karena di lokasi tersebut banyak potensi yang sudah di kembangkan. Desa ini terletak di kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Desa ini dihuni dari tahun 1989 dan mayoritas penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa.
Analogi spons ini pun membuat peserta workshop Qureta-Belantara semakin antusias dan penasaran ingin mengenal lahan gambut. Sambil mencoba berpijak di empuknya lahan gambut, beberapa peserta Qureta melontarkan pertanyaan. Namun satu hal yang sangat menarik perhatian mereka, ketika perjalanan mencapai sebuah parit di tengah-tengah luasnya lahan gambut. "Untuk apa parit ini Pak? Untuk irigasi kah?" seorang peserta mengajukan pertanyaan sambil menunjuk ke arah parit itu.
Tebakan yang sama terpikirkan di benak saya ketika melihat ada sebuah saluran air mirip sungai kecil di hadapan kami. "Kanal itu mungkin dibuat untuk keperluan irigasi lahan perkebunan kopi di sekitarnya." pikirku dalam hati. Kanal itu terhubung dengan sungai, membentuk sebuah pertigaan yang tepat di atasnya terdapat jembatan. Aku pun melangkah ke jembatan itu, berharap mendapat view yang lebih baik. Dari atas jembatan terlihat keanehan dimana ada perbedaan ketinggian air yang mencolok antara kanal di depanku dengan sungai di belakangku. Sungainya tidak kering, cukup basah oleh genangan air yang rendah. Sangat berbeda dengan kanal itu yang ketinggian airnya kira-kira hanya 40 cm dari permukaan tanah. Kepala Desa pun berjalan sedikit ke pinggir kanal, hendak menjawab pertanyaan peserta tadi.
"Ini adalah kanal sekat, sebuah sarana pencegah kebakaran lahan gambut" ujarnya sambil menunjuk kanal tersebut.

Secara singkat ia menjelaskan, kanal sekat berfungsi untuk menjaga lahan gambut tetap basah. Air di kanal diserap oleh tanah dan mencegah kekeringan lahan gambut yang beresiko kebakaran. Banyaknya material karbon organik seperti metana dan CO2 yang tersimpan di bawah lahan gambut menyebabkan lahan ini sangat mudah terbakar. Ketika kemarau tiba, titik panas api (hotspot) banyak timbul di lahan gambut. Bahkan ketika upaya pemadaman dilakukan, api yang terletak di dalam tanah akan sulit dideteksi.
Sewaktu-waktu api dapat muncul kembali ke permukaan tanah dan membakar hutan. Sehingga cara terbaik mencegah terbakarnya lahan gambut adalah dengan menjaga lahan tetap basah. Kalaupun tetap terbakar, pengelola lahan dapat berupaya memadamkannya dengan kanal tersebut sebagai sumber air. "Bagaimana agar air di kanal tetap menggenang, Pak?" tanya peserta lainnya. Pak Arifin kemudian menyingkir sedikit ke tepi kanal dan menunjuk bagian bawah jembatan.
"Antara kanal dan sungai dibuat sekat agar air di kanal tidak keluar ke sungai. Dengan begini, kanal tetap tergenang air meski sungai mengering." jawab Pak Arifin.

Untuk mengatur ketinggian dan mencegah air meluap dari kanal, pipa pralon dipasang di ketinggian tertentu. Air yang terlalu tinggi akan disalurkan ke sungai melalui pipa tersebut. Metode ini cukup efektif mencegah kebakaran hutan. Tercatat sejak adanya sekat kanal, potensi kebakaran hutan sepanjang 2017 berhasil ditekan. Presiden Joko Widodo pun menginstruksikan pembangunan sekat kanal besar-besaran. (cont.)

(Penulis : Baiti vs Labib)

Keterbatasan berbuah Kemandirian


Desa Sumber Agung merupakan desa yang dikunjungi oleh peserta dan panitia Qureta dalam Ekspedisi Kubu. Kegiatan ini merupakan bagian dari Workshop & Kelas Menulis yang dilakukan selama 1 hari 1 malam pada 28-29 April 2017. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengobservasi berbagai potensi yang ada, seperti mengamati potensi kopi, nipah, dan karet.
Desa Sumber Agung menjadi pilihan karena di lokasi tersebut banyak potensi yang sudah di kembangkan. Desa ini terletak di kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Desa ini dihuni dari tahun 1989 dan mayoritas penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa.
            Jum’at (28/4) peserta dan panitia siap berangkat menuju dermaga Rasau. Sampai disana mereka pun menaiki Speed yang akan menghantar ke Desa Sumber Agung. Speed yang digunakan begitu kencang meninggalkan dermaga Rasau. Pemandangan indah terbentang luas, hamparan sungai yang panjang, hutan yang hijau, dan langit yang biru seolah membuat mata tak bosan untuk melihatnya.
            Satu jam berlalu, dari kejauhan mata memandang tampak awan hitam yang siap siaga menjatuhkan airnya ke Bumi. Hujan deras mulai mengguyur, begitu pula ombak yang siap menghantam. Namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi peserta qureta untuk menuju lokasi. Selang beberapa jam tim Ekspedisi Kubu akhirnya sampai di dermaga tepat depan rumah Kepala Desa. Kedatangan disambut hangat oleh warga, dengan makanan yang siap disantap.
Ketika tim ekspedisi kubu hendak melihat hasil potensi yang ada didaerah sekitar. Salah satu warga sebut saja bapak Abdul, beliau mengatakan bahwa didaerah desa sumber agung potensi yang lebih besar untuk menunjang kehidupan ialah potensi Kopi, nipah, dan karet. Kopi yang terdapat di Desa Sumber Agung beraneka jenis macam, yakni kopi jenis Arabika, Robusta, dan Liberia. Menurut Abdul kopi yang paling enak ialah kopi jenis Arabika, meskipun ukuran nya lebih kecil dari jenis kopi yang lain namun kopi jenis arabika memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Petani kopi sudah berhasil memproduksi kopi yang diberi nama kopi “Cap Layar”. Meskipun sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat setempat, untuk memperkenalkan lebih jauh ke masyarakat luar fasilitas yang ada kurang memadai.
Berbicara fasilitas yang merupakan penunjang keberhasilan ekonomi dalam proses pekerjaan, berarti menyangkut sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota maupun desa. Dengan tujuan mencapai perekonomian yang lebih baik. Fasilitas merupakan hal yang fundamental di dalam suatu proses. Karena suatu keberhasilan proses sangat ditentukan oleh manusia, yang berarti sumber daya manusia yang handal akan menentukan sebuah rencana.
Fasilitas yang terdapat di Desa sumber agung sangat minim adanya. Karena jarak untuk ke kota membutuhkan waktu minimal 3 jam. Meskipun Desa Sumber Agung bersebrangan langsung dengan Kabupaten Kayong Utara, hal itu tak memungkinkan bagi masyarakat untuk mendapatkan fasilitas yang lebih maximal. Untuk lampu saja, pemakaian dibatasi dengan waktu.
Keterbatasan akan fasilitas yang dihadapi masyarakat Desa Sumber Agung Kecamatan Batu Ampar menuntut mereka untuk mandiri. Jauh nya dari Kota tidak membuat mereka lemah dan malas, akan tetapi semakin membuat mereka belajar untuk semangat dalam menjalani hidup. Keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, dan aku percaya suatu saat Kecamatan Batu Ampar tepat nya di Desa Sumber Agung akan menjadi lokasi yang maju. Karena jalur perairan mereka merupakan jalur transportasi yang dilalui oleh banyak kapal. Hal itu pula lah yang akan membuat orang-orang akan menoleh sedikit bahkan mencari tau akan kekayaan yang tersembunyi didaerah tersebut.


Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Saya wanita biasa, melalui tulisanlah saya mencurahkan apa yang ada difikiran saya. :) Fb : Suci Ig : @Baitiiii

12 Jam Sebelum Melahirkan