Kabupaten Kapuas Hulu,
atau sering disebut dengan istilah daerah “uncak kapuas” dikenal sebagai bagian
dari wilayah kawasan strategis tujuan
ekowisata jantung borneo. Kabupaten yang sebelah utara berbatas langsung dengan
Sarawak (Malaysia Timur), sebelah selatan dan barat dengan Kabupaten Sintang,
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah.
Dengan luas wilayah geografis sebesar 29.842 km2.
Secara administratif Kabupaten Kapuas Hulu membagi daerahnya kedalam 23
kecamatan. Salah satu nya adalah Kecamatan Hulu G.
Kali ini penulis akan berbagi informasi sedikit, mengenai desa yang berada di kecamatan Hulu Gurung. yaitu, Desa Mubung.
Kondisi
Lingkungan, Sosial dan Ekonomi
Desa mubung memiliki 3 dusun, yaitu dusun puntijaya, dusun sangkaka dan
dusun tanjung harapan. Desa mubung yang berada di kecamatan hulu gurung
merupakan desa yang berada di dekat bukit Piabung. Kondisi lingkungan di di daerah
desa mubung mmemiliki topografi rendah, dan memiliki hutan seluas 1.827,20 Ha. Berada didekat perbukitan dan disuguhkan
luas nya hutan, menjadikan hal tersebut sebagai sumber potensi alam bagi
masyarakat mubung untuk membangun daerah nya.
Dalam pembangunan suatu daerah tidak akan terlepas dari potensi alam,
seperti hutan, tambang, lautan, dan kekayaan lainnya yang dimiliki. Memang tak
bisa dipungkiri dalam pembangunan diperlukan bahan baku untuk pengembangan
suatu daerah. Dalam pembangunan tersebut yang menjadi masalah adalah bagaimana
keikutsertaan alamnya dan keberlangsungan pemeliharaan alamnya.
Dalam kehidupan dan aktivitas manusia sehari-hari, masyarakat mubung
misalnya. Lahan menjadi bagian utama dari lingkungan sebagai sumber daya alam
yang mempunyai peranan sangat penting untuk berbagai kepentingan bagi manusia.
Dengan melakukan suatu strategi yang dapat menghasilkan keuntungan, hal tersebut merupakan pengelolaan ekonomi
jangka panjang yang memungkinkan penduduk lokal tidak tergantung pada investor
dan perusahaan asing. Tak hanya itu, berbagai strategi yang dilakukan
masyarakat mubung juga sebuah upaya merawat penghidupan berkelanjutan untuk
masyarakat lokal, sekaligus konservasi lingkungan. Di desa mubung, ketiga hal
tersebut berada dalam satu lanskap alam.
Meskipun strategis dilihat dari
letak geografis dan potensi SDA dan SDM, kawasan ini belum banyak
dimanfaatkan secara optimal dan wilayah ini juga tergolong wilayah yang kurang
berkembang.
Sedangkan kondisi sosial masyarakat desa mubung, jika ditinjau dari
tingkat pendidikan masyarakat yang sudah bekerja di desa mubung masih tergolong
rendah. Sebagaimana dilihat dari data desa, angka yang paling besar adalah
tidak tamat Sekolah Dasar (SD) yakni terdiri 274 jiwa, tamat Sekolah Dasar (SD)
terdiri 208 jiwa. Fasilitas pendidikan yang terdapat di desa mubung juga masih
sangat terbatas. Pada tahun 2016 terakhir hanya
ada Sekolah Islam Ibtidaiyah (1), dan Tsanawiyah (1).
Selanjutnya, berdasarkan observasi dan wawancara
penulis mengenai keadaan ekonomi masyarakat desa mubung bisa dikatakan sangat
rendah. Karena menurut Bapak Alimin salah satu
masyarakat mubung, bahwasanya mayoritas pekerjaan masyarakat mubung ialah
sebagai petani, pemotong karet, dan pemotong kayu itupun tidak banyak. Meskipun
demikian, keadaan ekonomi yang berada di desa mubung untuk saat ini sangat
memprihatinkan.
Hal senada juga sama dikatakan Bapak Ahmadin salah satu petani yang
berada di Desa Mubung sekaligus Kesre, beliau mengatakan bahwa pekerjaan
masyarakat didesa mubung ialah sebagai petani dan pekebun. Menurut data yang
diperoleh, petani yang berada di desa mubung berjumlah 336 jiwa dari 1.309 jiwa yang ada. Selain petani, bahwasanya
masyarakat mubung juga bekerja sebagai pekebun karet. Karena luas nya lahan
yang berada di desa Mubung, hal ini lah yang menjadikan masyarakat memanfaatkan potensi alam yang ada.
Tiga dusun yang
berada di desa mubung ini, tidak menyatu hanya ada dua dusun yang menyatu
sedangkan satu dusun ada di pelosok/dipedalaman yang ada dibukit. Sehingga hal
tersebut menimbulkan perbedaan antara dua dusun yang berada di lintas selatan.
Untuk di lintas selatan keadaan perekonomian sekarang ini sangat kurang baik,
hal ini disebabkan karena harga karet turun drastis. Untuk harga 1 kg karet hanya berkisar
6000,- saja. Sedangkan untuk dusun tanjung harapan, harga karet 1 kg nya hanya
5.000,-. Hal ini disebabkan karena jalan untuk menuju akses kurang bagus.
Potret Profesi
Masyarakat Desa Mubung
A.
Petani
Sektor pertanian masih menjadi tulang
punggung bagi angkatan kerja di Desa Mubung. Luas wilayah lahan sawah di desa
mubung seluas 114 ha. Melihat kondisi obyektif,
maka tak berlebihan kiranya sektor pertanian merupakan mayoritas di Desa Mubung
Kecamatan Hulu Gurung. Hal ini semakin menguatkan argumentasi penulis bahwasanya
gantungan hidup para penduduk ada pada bidang pertanian dan bukan kelautan.
Situasi tersebut sejalan dengan faktor kesuburan tanah yang relatif tinggi,
baik di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah.
Meski petani menjadi mayoritas mata pencaharian penduduk,
namun hal itu tidak diikuti dengan baiknya kualitas hidup para petani tersebut.
Di daerah perbukitan khususnya dusun tanjung harapan, untuk menanam padi itu
sangat sulit karena untuk menjangkau tempatnya susah meski sudah ditinjauh oleh
pihak desa bahwasanya lahan pertanian untuk didaerah perbukitan seluas 50 ha.
B.
Pekebun
Menurut data Pokok Desa/ Kelurahan[1],
penduduk desa mubung selain bekerja sebagi petani ia juga bekerja sebagai
pekebun. Mengingat luas lahan perkebunan seluas 2.571 ha, tentunya angka ini lebih luas dari lahan persawahan. Hal itu pula
menjadi alasan warga untuk memanfaatkan lahan yang ada. Masyarakat mubung
berkebun dengan menanam karet. Meskipun sekarang harga karet turun drastis,
namun pekerjaan itu masih saja dilakukan untuk menunjang biaya hidup.
C.
Perikanan
Lain perkebunan lain pula
perikanan. Meskipun masyarakat mubung bukan berada di sekitar pesisir pantai,
banyak dari sebagian kepala keluarga yang membuat tambak ikan guna untuk
kebutuhan pribadi. Ibu Suri misalnya, salah satu pemilik tambak ikan beliau
mengatakan bahwasanya tambak ikan yang ia buat hanya untuk kebutuhan pribadi.
Mengingat pasar ikan jauh dari daerah setempat, jadi beliau dan warga lainnya
berinisiatif untuk membuat tambak ikan dan membudidayakan ikan yang ada
misalnya ikan bawal, ikan nila, ikan paten, ikan lele, dan sejenis ikan
lainnya.
Masalah Yang di Hadapi Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat tergantung pada
perekonomian mereka. Meski masyarakat desa mubung memiliki lahan
berhektar-hektar dan potensi alam lainnya. Keadaan ekonomi di desa mubung masih
terbilang jauh dari kata maju. Contoh nya dalam bertani, didaerah dusun tanjung
harapan untuk berladang saja masih menggunakan sistem ladang pindah[2].
Ladang pindah biasa nya disebut masyarakat
dengan “guma”. Kegiatan tanam padi yang
harus berpindah dari ladang satu ke ladang lainnya, disebabkan karena
tidak ada pupuk untuk menetralisirkan kembali keadaan tanah yang ada. Dengan
cara ini, tanah dapat kembali ternetralisir dengan sendirinya (alami).
Pada tahun 2013
desa mubung pernah mendapat bantuan dari pemerintah, hanya saja untuk dusun
tanjung harapan tidak dapat. Dikarenakan
bantuan tersebut hanya dikelompokkan untuk lahan pertanian yang sudah
ada/jadi. Untuk menuju daerah dusun tanjung harapan, akses jalannya begitu jauh
dan medan yang dilalui pun begitu sulit, hal itu pula menjadi asbab bahwa
daerah dusun tanjung harapan sulit mendapat bantuan. Sehingga didesa Mubung,
untuk dibidang perswahan/pertanian bisa dikatakan masih tahap berkembang.
Untuk bidang perkebunan,
masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat desa mubung ada pada harga nilai
jual. Harga karet belakangan ini turun drastis, jika beberapa tahun yang lalu
harga karet pernah mencapai 20.000 berbeda dengan keadaan sekarang yang mana
harga nilai jual karet hanya sekitar 6.000,-. Harga turun 3x lipat, hal ini lah
yang membuat perekonomian masyarakat sekitar tidak stabil. Sedangkan untuk
tambak ikan sendiri, faktor utama yang menjadi penghambat adalah tidak adanya
tempat untuk menampung hasil dari tambak ikan itu sendiri.
Abdul Satar selaku
Sekretaris Desa mengatakan bahwa perekonomian di desa Mubung untuk saat ini
bisa dikatakan sangat pedih. Karena tidak adanya kerja sampingan, membuat para
pekerja harus bergantung dan menerima hasil dari apa yang didapatnya.
Kondisi yang telah cukup
berakar ini sebenarnya telah dirasakan sejak lama. Namun para petani maupun
pekebun Desa Mubung belum terlihat semasif sekarang dan justru seakan bersikap
“isak meh”[3],
menganggap bahwa ini takdir yang harus diterima.
Solusi Yang Bisa di Tempuh
Masyarakat desa mubung merupakan salah satu desa yang masih
menerapkan kerjasama. Hal ini bisa dilihat dari kekompakannya dalam bergotong
royong. Masyarakat desa mubung melakukan gotongroyong satu bulan sekali, baik untuk membangun desa, membersihkan
lingkungan sekitar, atau lain sebagainya.
Didalam gotongroyong tersebut ada pertukaran informasi yang
mengalir dalam balutan hangatnya perbincangan. Selalu ada topik-topik yang dibahas
di setiap pertemuan antar warga. Tentu hal ini merupakan media potensial untuk
menyebarkan informasi dari mulut ke mulut.
Potensi ini
akan sangat bermanfaat apabila digunakan untuk menyebar pesan-pesan dan saling
mengajak serta memberikan solusi untuk kemajuan daerah maupun kehidupan
masing-masing individual.
Selain itu di
desa Mubung juga ada yang namanya Kerja Wanita Tani (KWT). Kwt ini merupakan
salah satu program dari Kemakmuran Hijau Indonesia. Kwt dibentuk sejak agustus
2016 hingga Desember 2017. Sri
Wahyuningsih yang merupakan koordinator regional kabupaten kapuas hulu
menuturkan bahwasanya ia menyampaikan ilmu-ilmu kepada wanita tani, seperti
mengembangkan metode hazton. Istilah Hazton, yang telah
diperkenalkan pada 2012 di Kalbar, berasal dari singkatan dua penemunya yaitu
‘Haz’ dari Hazairin dan “Ton” dari Anton Kamarudin. Hazairin, tak lain adalah
Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat. Dengan diadakan metode hazton ini, maka akan
mengembangkan kualitas pertanian. Jadi program yang digerakkan pada wanita
tani, merupakan salah satu program kerja guna melihat apakah produktivitas
pertanian semakin meningkat.
Wanita tani yang tergabung
dalam kelompok tersebut, sangat antusias ikut bergabung. Dimana bagaimana dengan
diadakannya kegiatan tersebut, mereka diajarkan cara membuat pupuk organik,
dilatih dalam kelompok untuk meningkatkan kapasitas ibu-ibu tani.
Dengan adanya salah satu
program tersebut, timbul harapan baru bagi petani desa mubung untuk meningkatkan
perekonomian mereka.







