Acara telah usai, aku pun bergegas pulang kerumah bersama teman
baikku. Belum sampai ditengah jalan, mata ku tertuju pada seorang lelaki kira-kira
berumur 50 tahun yang sedang mengayuh becak.
Spontan aku menyuruh Adhe untuk stop, karena aku ingin sekali naik
becak.
“Berapa pak , kalo dari sini ke arah pal 5 ?”
“Terserah adek mau ngasi berapa,” jawabnya
“Tapi pak, saya gak pernah naik becak jadi saya gak tau harganya. Sesuai
harga capek aja pak” Tanyaku kembali,
“50 ribu dek” ujarnya.
Aku kaget, harga yang ditawarkan begitu mahal fikirku. Adhe yang
berada disampingku, sembari membisikkan untuk menawar dengan harga yang lebih
rendah.
“20 aja ya pak gimana ?”
“40 jak dek”
“hmm, yaudahlah pak kalo gitu lain kali aja.”
“30 deh dek.”
“hmm.” Sejenak aku berfikir.
Karena aku sangat ingin sekali naik becak, aku sepakat dengan harga
yang ditentukan.
Munaki, yaa itulah nama lelaki yang dengan semangat mengengkol
becak nya demi menghantarku pulang. Lelaki berusia 50 tahun ini tinggal di Jl.
Ujung Pandang (sepakat), ia memiliki 5 orang anak yang mana 2 dari 5 anak
tersebut masih duduk di bangku sekolah.
Pendapatan yang diperoleh bapak Munaki tidak menentu, kadang 50-70
ribu kadang tidak ada rupiah yang di bawa pulang.
“Kalo pendapatan sih dak menentu dek, kadang malah ndk dapat
ape-ape. Kadang dapat juga sih 50 sampai 70 ribu” Ujarnya,
Munaki bekerja sebagai tukang becak kurang lebih selama 33 tahun,
dari mangkal di Siantan hingga mangkal di Kapuas. Lelaki separuh baya tersebut
sangat berharap agar bisa memperoleh pekerjaan lain, akan tetapi ada beberapa faktor
yang menjadi penghambat.
Salah satu nya tidak ada kenalan untuk kerja, dan tidak ada modal
untuk membuka usaha. Saat ini ia hanya bisa berharap pada anak-anak nya, agar
kelak anak-anak nya tersebut bisa kerja yang layak dan tidak mengikuti jejak
langkah orangtuanya. (red)
Pengalaman di sore itu , banyak mengajariku arti dari kehidupan. Berbicara
tak mesti dengan orang tinggi, terkadang kita juga butuh mendengar orang bawah
agar rasa peduli terus tumbuh di hati kita. Banyak sekali perbincangan yang
kami bicarakan, hingga tak sadar becak yang sedang kunaiki sudah sampai didepan
rumahku.
Terimakasih bapak J Impianku
naik becak lagi akhirnya kesampaian J Semoga Allah memudahkan rezki mu J


masyaallah kren artikel nya
BalasHapusterimakasih, kalo keren .. boleh di share :)
Hapus