HARGA TELUR TIDAK STABIL




Bila telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, kehidupan di dalamnya akan ikut berakhir.
Tapi apabila telur itu dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, berarti kehidupan baru telah lahir. ~Rangga Umara
Pepatah singkat yang disampaikan oleh Rangga Umara sangat menyinggung kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Dimana harga telur yang meningkat saat menjelang ramadhan hingga hari raya tiba , menimbulkan rasa gelisah di sebagian pihak. Namun di pihak lain mendatangkan keuntungan bagi nya.
Telur merupakan salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Para ahli gizi mengatakan bahwa telur adalah salah satu makanan paling padat nutrisi. Kandungan nutrisi telur utuh mengandung lebih dari 90% kalsium dan zat besi pada kuning telurnya dan satu telur mengandung 6 gram protein berkualitas tinggi dan 9 asam amino esensial.
Di Kota Pontianak sendiri harga telur mulai meningkat saat menyambut ramadhan tiba, Inspektur Jenderal (Irjen) Perdagangan Kementrian Perdagangan, Srie Agustina mengatakan,
“salah satu sebab kenaikan harga telur itu, adanya kebiasaan menjelang bulan Ramadan masyarakat Indonesia senang melaksanakan kegiatan hajatan/syukuran.” Ungkapnya dalam Berita Online.
Senada diungkapkan oleh salah satu pedagang di Toko Sejahtera, Salam (35). Menurut dia, pedagang menaikkan harga telur ayam lantaran menyesuaikan harga dari agen yang mengalami kenaikan.
Selain itu, salah satu pedagang telur ayam di toko Nilo Jl Tabrani Ahmad Pontianak Barat, Alang mengatakan, harga telur ayam memang sedang mengalami kenaikan seiring dengan datangnya musim liburan ditambah dengan menyambut Ramadhan dan Hari Raya.
Sebagian pedagang telur ayam mengeluhkan harga telur yang tak kunjung stabil. Namun ada sebagian juga yang merasakan untung. Alang contohnya, ia merasakan untung meskipun dengan menjual harga yang cukup tinggi. Mengingat mendekati hari raya (lebaran) umat muslim pastinya banyak menggunakan telur untuk membuat kue. Jadi tidak ada kemungkinan bahwasanya telur yang ia jual tidak ada yang membeli.
Harga yang dijual pun cukup bervariasi, hal ini karena disesuaikan dengan ukuran nya. Harga berkisar berdasarkan ukuran dari harga 1.550 – 1.800 rupiah. Alang mengambil telur langsung dari agen Singkawang, harga normal yang biasa ia ambil perkilo sekitar 19.000 namun karena ada kenaikan harga sekarang ia mengambil perkilo sebesar 26.500 rupiah. Ia mengambil telur sebanyak 9000 biji, jika ada telur yang tidak laku sampai menjelang 3 minggu. Biasanya Alang menurunkan harga dari biasanya. Namun ia mengakui, selama ia berdagang telur dagangannya selalu laku.
Pedagang satu ini memang mengalami keuntungan, namun tidak bagi konsumen. Sohiifah (20) yang biasa membeli telur untuk makan sehari-hari berfikir bahwasanya terjadi pergeseran harga yang tidak stabil. Harga telur yang biasa ia beli 1.200 kini harus 1.600. kerugian 400 rupiah ini, jika dikumpulkan akan dapat membeli barang lain, ungkapnya. Namun mengingat tradisi yang ada dirumahnya jika Hari Raya tiba ia harus membuat kue, dan itu harus menggunakan telur. Jadi mau tidak mau, ia harus membeli telur dengan harga yang cukup tinggi.
Dan perlu kita ketahui bahwa ini merupakan persoalan gejolak harga pangan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah setiap tahunnya, apalagi menjelang hari-hari besar keagamaan. Harga bahan pangan pokok kerap mengalami kenaikan. (Senin,4 Juni)

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Saya wanita biasa, melalui tulisanlah saya mencurahkan apa yang ada difikiran saya. :) Fb : Suci Ig : @Baitiiii

12 Jam Sebelum Melahirkan