A. Latar Belakang
Pesatnya perubahan
arus globalisasi memaksa kita sebagai kaum muslim untuk berusaha menyeru saudara-saudara
kita sesama muslim, bahkan non muslim sekalipun. Guna untuk tetap kembali
menuju jalan-Nya melalui seruan, ajakan, serta bentuk aktifitas yang nyata
untuk menjalankan perintahnya.
Pribadi
muslim yang kita cita-citakan adalah sosok
yang memiliki akidah yang bersih dari kemusyrikan, beribadah yang benar sesuai
tuntunan, berakhlak mulia sesuai panduan al-Qur’an dan sunnah, berwawasan luas
sehingga memiliki kemampuan memanajemani aktivitas, sekaligus memiliki fisik
yang kuat hingga mampu mengemban amanah jihad. Selain itu, kita menginginkan
pribadi selalu bermujahadah bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi orang lain,
pandai membagi waktunya, tertib segala urusannya, dan mandiri dalam
penghidupannya.[1]
Salah satu kewajiban kita
adalah mengingatkan betapa besar dosanya kepada Islam para da’i yang menyeru
dakwah, namun mereka hanya menampilkan sebagian sisi dari Islam dan melupakan
sisi lainnya, baik sengaja maupun tidak. Untuk memperkenalkan dakwah dan
menyebarkannya, seorang da’i harus memiliki sifat-sifat dasar dan menggunakan
metode yang benar. Salah satu sifat dasar itu adalah menjadi teladan yang baik
bagi umat yang menjadi sasaran dakwahnya. Namun tidak semua da’i selalu
memiliki sifat/ kepribadian yang positif disisi lain seorang da’i juga
mempunyai kepribadian yang negatif yang mana hal itu perlahan harus dihilangkan
agar bisa menjadi teladan yang baik bagi sasarannya (mad’u).
Selain itu, masyarakat yang
menjadi sasaran da’i juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Sehingga
untuk menerima apa yang disampaikan oleh da’i akan sulit dicerna atau dipahami
oleh mad’u. Didalam makalah ini, penulis akan lebih memfokuskan untuk membahas
kepribadian seorang da’i yang positif dan negatif, dan kepribadian mad’u yang
positif dan negatif. Sehingga, apa yang ada didalam kepribadian da’i maupun
mad’u bisa kita ketahui dan kita pelajari.

0 komentar:
Posting Komentar