TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjadi Duta Genre Kalbar
2017, Suci Nurul Baiti berperan sebagai penyambung pesan BKKBN kepada generasi
muda di Kalbar agar memiliki pemahaman tentang keluarga berencana,
kependudukan, pembangunan keluarga, demografi, narkoba dan HIV/AIDS.
Berangkat dari tanggung jawabnya tersebut, dia mengungkapkan
keinginannya untuk melakukan perubahan di kalimanatan barat agar tingkat
pernikahan dini berkurang. Upaya yang dilakukannya agar perubahan itu terwujud
adalah dengan melaksanakan beberapa program yang memanfaatkan media radio dan
media sosial.
Untuk memberikan pemahaman dan edukasi dia memanfaatkan radio komunitas (radio
prokom, 107,9 mhz) untuk menyuarakan pesan-pesan yang harus
disampaikannya.Untuk memberikan pemahaman dan edukasi dia memanfaatkan radio
komunitas (radio prokom, 107,9 mhz) untuk menyuarakan pesan-pesan yang harus
disampaikannya.
Dia menuturkan pernikahan dini umumnya disebabkan oleh faktor
ekonomi dan pendidikan karena itu perlu diberikan pemahaman agar anak-anak muda
mengerti resiko yang dihadapi jika pernikahan dini terus terjadi.
"Saya menyiarkan ajakan dan pesan-pesan agar tidak menikah
di usia dini, saya juga menghadirkan para narasumber yang berkompeten di
bidangnya untuk membagikan ilmu dan pengalaman, setelah itu berdasarkan obrolan
dan diskusi yang kami bangun, saya akan memperoleh informasi baru yang akan
saya aplikasikan pada masyarakat dalam bentuk pendekatan atau
sosialisasi," katanya, Rabu (10/1/2018).
Mahasiswi di IAIN Pontianak yang juga menteri di dewan
mahasiswama IAIN ini menuturkan kampanye juga dilakukannya melalui media sosial
dengan memanfaatkan fitur live di Instagram.
Tak hanya itu, jika media sosial bigo live seringkali digunakan
untuk live video hot, di sini dia melakukan kampanye mencegah pernikahan
dini.
"Saya lawan hal negatif dengan hal positif, walaupun sulit
mengubah pemahaman anak-anak muda mengenai pernikahan, saya tidak mau menyerah.
Saya manfaatkan media sosial seperti Instagram dan Bigo Live, responnya sangat
bagus, kadang juga saya menulis di blog," tuturnya.
Dia yang juga jurnalis kampus di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)
Warta ini mengingatkan resiko dari pernikahan dini bagi perempuan dan
anaknya.
"Perlu diketahui jika pernikahan dini merupakan penyumbang
angka kematian yang tinggi karena keadaan sel-sel rahim yang belum matang, anak
perempuan yang melahirkan di usia dini pun memiliki tingkat risiko komplikasi
yang tinggi, seperti fistula obsteri, infeksi, keguguran, pendarahan hebat.
Begitu pula Bayi yang dilahirkan memiliki resiko kematian lebih tinggi,"
jelasnya.
Selain tidak baik bagi kesehatan, dia pernikahan dini
rentan memunculkan masalah-masalah sosial yang baru, ini karena belum
siapnya psikologis sehingga bisa berujung pada ter jadinya konflik hingga
perceraian. Karena itu perlu kesiapan, tidak hanya materi tapi juga
mental. "Jadilah generasi yang cerdas," pungkas penari di
Sanggar Koma ini. (kla)

0 komentar:
Posting Komentar