GenRe- Cari Tahu, Baru Sok Tahu

Tulisan ini berangkat dari perbincangan penulis dengan masyarakat sekitar.

                                             (https://mckeestory.com/seminars/genre/)
Saat penulis sedang asik mengobrol dan sedikit membuka bicara tentang GenRe. Ternyata masih banyak yang belum tahu apa itu GenRe. Dalam fikir ku, apakah ini kurang nya sosialisasi ? atau mereka nya yang kudet ?
Ku coba jelaskan apa itu GenRe, baru saja aku menyebutkan singkatan dari GenRe (Generasi Berencana), salah satu dari mereka malah berkoar “Saya tak mau kawen tue” , “Saya bukan GenRe”, “Saya mau punya anak lebih dari 2”.
Seketika aku tertawa kecil dan berkata “Kebanyakan manusia sekarang, belum tau apa-apa tapi sudah berani nyodor-nyodor omongan orang, Jangan sempit dalam memaknai kata GenRe. Program genre bukan hanya 2 anak lebih baik , bukan hanya tadak kawen mude.”
Suasana pun mulai hening,
Aku mulai membicarakan dari hal yang dasar, menjelas kan apa itu GenRe, apa saja program Genre, siapa yang menjadi sasaran nya, dan apa maksud salam genre.
Dengan menggunakan bahasa sederhana, dan sambil senda gurau. Bagiku ini cara yang efektif dalam menyampaikan sesuatu dengan orang yang memiliki pandangan berbeda. Meskipun demikian, kita juga harus bisa meyakinkan orang tersebut.
Kataku singkat,
“Kamu tau gak genre tu apa, genre itu singkatan dari generasi berencana. Program genre pun bukan hanya satu, tadinya delapan, eh berubah enam,  namun sekarang ada empat. Yaitu
1.    Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)
2.    Kesehatan Reproduksi Remaja
3.    Keterampilan Hidup (Life skill)
4.    Perencanaan Kehidupan Berkeluarga
Bukan hanya tadak kawen mude yang GenRe bicarakan, tapi ada hal yang lebih penting dari pada itu. Yaitu, makna dari salam genre, dimana saat kita tahu apa maksud salam genre, kita harus bisa menerapkan dalam kehidupan kita.
Salam Genre dengan mengacungkan tiga jari (jari tengah, jari manis, jari kelingking) kemudian telunjuk dan jempol membentuk lingkaran, ini bukan sekedar lambang salam, namun simbol dengan makna besar.
Makna lingkaran dari telunjuk dan jempul adalah zero atau nol yang menggambarkan tidak melakukan tiga hal. Pertama adalah tidak menikah di usia muda karena pernikahan di usia muda akan menyebabkan banyak masalah.
Remaja disarankan serius belajar mulai jenjang sekolah hingga perguruan tinggi dan meningkatkan kariernya. Setelah usianya matang baru dianjurkan menikah sehingga secara mental dan reproduksi juga siap membina rumah tangga agar memiliki keturunan.
“Zero kedua adalah tidak melakukan seks bebas (zero free sex). Konseling di bidang ini untuk membangun pusat informasi antar remaja baik antar pelajar maupun antar mahasiswa, atau antarteman sebaya,” sebutnya.
Dalam penekanan konseling zero free sex, kegiatannya berupa penyuluhan dan melatih remaja memiliki kemampuan, dapat memecahkan solusi, dan mencegah remaja dari pergaulan bebas, sehingga ketika ada remaja yang punya masalah, maka bisa diselesaikan melalui bimbingan dan konseling sebaya.
Sedangkan untuk zero narkoba, maka remaja juga diberikan wawasan tentang apa itu narkoba dan bagimana bahayanya jika seseorang mengkonsumsi obat-obatan terlarang, sehingga melalui bimbingan ini maka para remaja bisa menjauhi narkoba.
Jadi jelas, ketika kita baru mengetahui sesuatu kita harus terlebih dahulu mengulasnya. Selain itu, sebelum kita menginformasikan kepada orang lain, cobalah pahami  dulu pemikirannya agar terjadi timbal balik antar komunikan dan komunikator.
Nah, Saat aku tutup bicara, timbul pertanyaan-pertanyaan baru dari mereka. Padahal mula nya bukan membahas tentang itu, tapi karena ada rasa ingin tahu dari mereka terjadilah timbal balik antar kami.

Ini ceritaku.... mana cerita kalian ?



0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Saya wanita biasa, melalui tulisanlah saya mencurahkan apa yang ada difikiran saya. :) Fb : Suci Ig : @Baitiiii

12 Jam Sebelum Melahirkan